Views: 58
Maulid di Mapolres Bintuni: Ketika Akhlak Rasulullah Menjadi Jalan Pelayanan
BINTUNI, inspirasipapua.id — Di sebuah aula kepolisian, Kamis, 27 Agustus 2026, pembicaraan tentang tugas polisi sejenak bergeser dari hukum dan penegakan aturan kepada sesuatu yang lebih mendasar: akhlak.
Di Aula Andriano Ananta Mapolres Teluk Bintuni, ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan. Salawat dan doa mengiringi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Di hadapan Kapolres Teluk Bintuni AKBP Marully Rachmat Azwar, jajaran pejabat utama, personel kepolisian dan Bhayangkari, Ustadz Abdul Muin, S.Ag., M.Ag., mengajak polisi melihat kembali sosok yang menjadi teladan umat Islam.
Tema yang diangkat bukan sekadar rangkaian kata: “Dengan Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Melalui Polri Presisi Kita Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”
Pesannya sederhana, tetapi menuntut kerja panjang: polisi tidak cukup hanya presisi dalam bekerja. Mereka juga harus berakhlak ketika berhadapan dengan manusia.
Ustadz Abdul Muin mengatakan Maulid Nabi tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Peringatan itu harus menjadi kesempatan untuk mengukur kembali perilaku manusia—seberapa dekat ibadah yang dilakukan dengan perubahan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad SAW, katanya, diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun dan menjalankan tugas kerasulan selama 23 tahun. Selama itu, Rasulullah tidak hanya mengajarkan tata cara beribadah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia seharusnya memperlakukan manusia lainnya.
“Yang paling penting dari peringatan Maulid Nabi adalah bagaimana kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswah atau contoh terbaik dalam kehidupan,” ujar Abdul Muin.
Ia mengingatkan, mencintai Rasulullah tidak cukup dengan memperbanyak ucapan salawat. Kecintaan itu harus menemukan bentuknya dalam kehidupan: membaca Al-Qur’an, memperbanyak ibadah, bersedekah, menjaga hubungan dengan sesama dan memperbaiki akhlak.
Bagi seorang anggota kepolisian, pesan itu menjadi semakin penting. Sebab pekerjaan polisi berlangsung di tengah masyarakat—di jalan, di kantor pelayanan, di tengah konflik, ketika menghadapi korban, maupun saat berhadapan dengan orang yang sedang melakukan kesalahan.
Dalam situasi seperti itu, kata Abdul Muin, karakter seorang polisi akan diuji.
Belajar Rendah Hati dari Rasulullah
Salah satu keteladanan Rasulullah yang disampaikan dalam tausiyah adalah kerendahan hati.
Rasulullah SAW adalah nabi sekaligus pemimpin umat. Namun kedudukan itu tidak membuat beliau menjauh dari kehidupan sederhana. Dalam keluarga, Rasulullah bahkan turut membantu pekerjaan rumah dan menunjukkan kasih sayang kepada keluarganya.
Pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan seorang polisi. Seragam dan kewenangan tidak boleh membuat seseorang kehilangan empati.
Di hadapan masyarakat, polisi memiliki kewenangan. Namun kewenangan itu, jika tidak disertai akhlak, dapat menciptakan jarak. Sebaliknya, sikap rendah hati, sabar dan penuh kasih sayang dapat membuat masyarakat merasa dihormati.
“Sebagai anggota kepolisian, ketika turun ke lapangan kita akan menghadapi berbagai macam karakter masyarakat. Karena itu, jadilah seperti lebah, kehadiran kita memberikan manfaat dan membuat masyarakat merasa aman serta nyaman,” kata Abdul Muin.
Belajar dari Semut, Lebah dan Laba-Laba
Dalam tausiyahnya, Abdul Muin menggunakan perumpamaan semut, lebah dan laba-laba untuk menjelaskan karakter manusia.
Semut mengajarkan tentang kerja sama. Hewan kecil itu hidup dengan kebersamaan dan gotong royong. Bagi manusia, terutama dalam sebuah organisasi seperti kepolisian, kebersamaan menjadi kekuatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak mungkin ditanggung seorang diri.
Lebah memberikan pelajaran lain. Ia menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan manis. Dari sana manusia diajak bertanya kepada dirinya sendiri: apakah keberadaannya memberi manfaat bagi orang lain?
Sementara laba-laba menjadi peringatan agar manusia tidak membangun perangkap bagi sesamanya—tidak suka menjebak, merugikan atau mencelakakan orang lain.
Perumpamaan itu akhirnya kembali kepada tugas polisi.
Masyarakat yang ditemui polisi tidak selalu datang dalam keadaan baik. Ada yang sedang marah, takut, kehilangan anggota keluarga, berkonflik atau berhadapan dengan persoalan hukum. Di situlah akhlak menjadi bagian penting dari profesionalisme.
Polisi dituntut mampu menegakkan aturan, tetapi pada saat yang sama tetap melihat manusia di balik persoalan yang sedang dihadapinya.
Maulid yang Berakhir di Tangan Anak Panti
Pesan tentang kasih sayang itu kemudian tidak berhenti di mimbar.
Rangkaian Maulid dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Bintuni. Kapolres Teluk Bintuni AKBP Marully Rachmat Azwar bersama Ketua Bhayangkari Cabang Polres Teluk Bintuni Ny. Indri Marully R.A. menyerahkan santunan tersebut secara langsung.
Anak-anak panti menerima bantuan itu dalam sebuah peristiwa yang sederhana. Namun justru di sana pesan Maulid menemukan bentuknya yang paling nyata.
Kasih sayang tidak lagi menjadi nasihat. Ia berubah menjadi tangan yang memberi.
Kepedulian sosial tidak lagi menjadi tema. Ia menjadi tindakan.
Bagi Polres Teluk Bintuni, santunan tersebut menjadi bagian dari upaya menerjemahkan nilai yang diajarkan Rasulullah SAW ke dalam kehidupan sosial.
Menjadi Lebih Baik dari Kemarin
Abdul Muin juga mengajak setiap personel menjadikan Maulid sebagai ruang evaluasi diri.
Ibadah yang dilakukan berulang-ulang, menurut dia, semestinya melahirkan perubahan. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Jika tidak ada perubahan dalam sikap, kesabaran, kejujuran dan kepedulian, maka manusia perlu kembali bertanya kepada dirinya sendiri tentang makna ibadah yang dijalankannya.
“Jangan sampai hari ini sama dengan kemarin. Kita harus terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Pesan itu barangkali merupakan inti dari Maulid di Mapolres Teluk Bintuni.
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang mengetahui aturan. Masyarakat juga membutuhkan polisi yang dapat dipercaya, yang amanah ketika memegang kewenangan, sabar ketika menghadapi persoalan, jujur ketika menjalankan tugas dan rendah hati ketika berhadapan dengan warga.
Akhlak Rasulullah SAW menjadi jembatan antara profesionalisme dan kemanusiaan.
Peringatan Maulid pun ditutup dengan foto bersama. Tetapi pesan yang disampaikan hari itu tidak semestinya ikut selesai ketika kamera berhenti memotret.
Ia seharusnya ikut pulang bersama setiap personel—menjadi pengingat bahwa seragam membawa kewenangan, sementara akhlak menentukan bagaimana kewenangan itu digunakan.
Di tengah tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, menjadi seperti lebah mungkin berarti menghadirkan rasa aman. Menjadi seperti semut berarti tidak bekerja sendiri. Dan menjauh dari sifat laba-laba berarti tidak menjadikan kewenangan sebagai perangkap bagi orang lain.
Pada akhirnya, keteladanan Rasulullah bukan hanya untuk dikenang. Ia untuk dijalankan.
**(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)***













